Kamis, 13 September 2007

Pagi yang Indah

Pagi-pagi sekali. Matahari saja masih malu-malu untuk menampakan hidungnya (memangnya matahari punya hidung?). Jam kaleng bulat dengan topi bulat di atas kiri dan kanan saja belum bangun, hanya terdengar bunyi tak… tik… tuk. Di atas tempat tidur nan empuk, wuu, terlihat sesosok manusia tertidur pulas. Rambut dan bajunya berantakan, mulutnya menganga, liurnya keluar, sehingga tercipta pulau-pulau nan bau di atas bantalnya. Kaki di atas selimut yang menutupi bantal dengan kepala di ranjang sebelah bawah. Jam kaleng menyorot jam empat lebih lima puluh sembilan pagi.
Satu menit berlalu. Tiba-tiba, “Kriiiiiiing…….!!!”. Jam lima tepat. Bunyinya kemana-mana. Bahkan ayam betina yang ada di belakang rumah saja sempat histeris sewaktu pertama kali mendengar bunyi ramai itu.
Gedubrak! Eh, bunyi apa tuh? Ya ampun, si manusia terjatuh dari ranjang dengan kepala terlebih dahulu. Kelihatannya benjol.
“Suara apa itu?” terdengar suara dari dapur di luar kamar.
“Selimut jatuh!” kata si kepala benjol.
“Kok keras?”
“Saya ada di dalamnya!!”
Jam lima lebih seperempat pagi. Matahari sudah tidak malu-malu lagi bersinar karena sudah jam tugasnya. Dia sorotkan sinarnya ke bumi kuat-kuat biar terang. Sekarang si kepala benjol membuka jendela kamarnya lebar-lebar. Biar udara bisa bertukar. Biar udara pagi yang sejuk bisa masuk kamar. Nanti akan dihirup banyak-banyak. Ah… segar sekali.
Dia melihat burung-burung yang melesat di udara. “Dan saya harus secepatnya melesat ke kamar mandi… “
Eh, tunggu dulu. Bukankah si kepala benjol kepalanya benjol? Tapi kok dia cuek bebek? Malah bersiul-siul melenggang ke kamar mandi? Tapi pa yang terjadi setelah dirinya masuk ke kamar mandi dan menutup pintu.
“Adaaaoooooooo… kepalaku, sakiiiiiit!!!” si kepala benjol meraung keras.
“Eh, ngapain kamu teriak-teriak?” terdengar lagi suara dari dapur di luar kamar mandi.
“Nggak ngapa-ngapain. Cuma latihan teriak!!!” jawabnya kencang.
Hihihi ternyata dia malu ‘kali kepada ibunya yang ada di dapur kalau jatuh dari tempat tidur. Jadi teriaknya setelah keluar kamar.
Byur, byur, byur! Terdengar suara jebar-jebur dari kamar mandi. Semangat. Mandi memang perlu semangat. Airnya terlempar ke kiri, ke kanan, ke atas, ke bawah. Sampai-sampai baju yang ada di gantungan baju saja basah.
“Wah! Bajuku basah,” katanya setelah mandi. Walau begitu tetap saja dipakai.
Sekarang si kepala benjol menuju ke kamarnya.
Mau tahu siapakah si kepala benjol? Kita lihat seminggu yang lalu ketika si kepala benjol terlambat datang ke sekolah.
“Siapa namamu?” tanya guru piket.
“Cipan, pak!” oh ternyata namanya Cipan.
“Kenapa kamu terlambat?”
“Anu, bisnya jual mahal, tidak mau berhenti di perempatan, pak!”
“Dimana kamu mencegat bis?”
“Di pertigaan, pak!”
“Tentu saja tidak berhenti, tidak ada yang mencegat. Ini surat masuknya setelah tanda tangan, cepat pergi ke kelas!!”
Kata dia, gampang kok mengenalinya. Bila kamu jalan-jalan, kemudian bertemu remaja bertubuh kurus dan rada tinggi dan kamu tanya namanya, dia menjawab “Cipan”, nah berarti dia itu Cipan.
Ya, dia itu anak yang jujur. Tidak pernah mengaku Caca, Cucu, ataupun Coco. Dia cukup bangga kok dengan namanya yang hanya secomot itu. “Nama esklusif. Tidak ada bandingannya,” katanya suatu hari.
Dia cukup ngetop, loh! Serius. Kalau kamu kebetulan manpir di rumahnya dan menyebut namanya, pasti orang serumah pada tahu semua. Itu ‘kan membuktikan bahwa dia cukup ngetop. Setidaknya, ya… diantara orang seisi rumahnya.

*****

Jam setengah tujuh pagi,jalanan mulai nggak sepi. Seperti hari-hari sebelumnya, setelah pergi dari rumah berpakaian seragam silat, eh ngaco maksudnya sulap, hihi, maksudnya seragam sekolah abu-abu putih, dia berbengong ria di pertigaan ujung jalan. Bis-bis pada jam seperti itu biasanya sarat penumpang. Dan kalau begitu, bis-bis itu pada jual mahal semua. Mereka terlalu gengsi untuk sekedar berhenti di pertigaan itu guna menjemput Cipan. Walhasil, Cipan sering kedapatan berlarian mengejar bis yang berhenti agak jauh dari situ. Juga sering kedapatan berlarian di trotoar depan sekolahnya karena nyaris terlambat menjangkahkan kakinya di gerbang sekolah.
Bis yang ditunggu muncul. Maka seperti TKI yang lain, Cipan dengan semangat pahlawan kesianagn turut berpartisipasi membudayakan lari dalam rangka mengejar bis menuju sekolah. Lumayan Cipan bisa manyusup ke dalam, berdesakan dengan seorang gadis berwajah manis berseragam sekolah. Dan ini salah satu-satunya nikmat yang di berikan Tuhan kepada orang-orang seperti Cipan. Hanya pada saat itu Cipan berani menyentuh cewek.
Bis berbelok di tikungan, penumpang miring ke kanan. Kesempatan itu digunakan Cipan memulai berkomunikasi dengan cewek itu. Dia menginjak kaki cewek itu. Walau kata orang banyak cara memulai komunikasi tapi cara itu yang digunakan oleh Cipan.
“Eh, maaf ya. Nggak sengaja. Abis bisnya goyang-goyang, sih. Sakit ya?”. Ekspresi Cipan benar-benar sempurna menunjukkan rasa penyesalan. Pintar dia, sebab ikut ektra teater, kok.
“Nggak. Nggak sakit. Injak saja terus!” sahut cewek itu dingin. Cipan kaget berkat sandiwaranya yang kurang sempurna, dia sampai lupa mengangkat kakinya yang menginjak kaki cewek itu.
“Eh, kamu marah, ya?” wajah Cipan penuh penyesalan. Kali ini serius.
Gadis itu tersenyum. Ya Tuhan, ini kesempatan baik.
“Nama kamu siapa?” tanya Cipan setelah beberapa saat membisu. Gadis itu sedikit heran mendengar pertanyaan yang rada aneh itu. Beberapa saat dia Cuma memandang Cipan. Cipan jadi salah sendiri. “Dosa apa nanya begitu?” pikir Cipan.
“Saya Tanti. Kamu siapa?” sahutnya balik bertanya.
“Saya Cipan,” jawab Cipan sambil mengulurkan tangan.
Dan bisa ditebak. Untuk seterusnya mereka ngomong soal cuaca, sekolah, sinetron, film, musik, dan makanan favorit.
Di Ngajar seseorang turun. Meninggalkan bangku kosong yang langsung diduduki oleh Tanti. Cipan langsung menitipkan tasnya yang besar, karena berisi baju olahraga karena nanti ada pelajaran penjaskes di sekolahnya, dan beberapa buku yang tidak termuat di dalamnya kepada Tanti. Obrolan dilanjutkan kembali.
Dia terus mengobrol sampai kelupaan turun. “Udah ya, Tan!”. Akhirnya dengan tergesa-gesa, Cipan menerobos desakan penumpang untuk segera melompat ke pintu bis. “Kiri! Kiri! Mas!” teriaknya sambil menggedor-gedor pintu. Sang kondektur memandang sewot ke arahnya. “Sialan! Bukan dari tadi bilangnya!”.
Cipan melompat turun sambil meledek kondektur yang marah-marah. Lalu jalan menelusuri trotoar. Dia merasa ada sesuatu yang kurang. Apa ya? Ya astaga, tas dan bukunya tertinggal di bis! Cipan langsung balik hendak mengejar bis itu, tapi yang tertinggal hanya kepulan debu dan derunya. Cipan habis memaki-maki.
Menyesal dia, kenapa dia tadi nitip kepada cewek itu. Wah, rasanya ingin berteriak keras-keras. Menumpahkan kekesalan yang membludak di hatinya. Tapi situasi tidak mengizinkan. Banyak anak yang lagi jalan.
“Hei… Cipan!!!” dari kejauhan terdengar suara cewek yang memanggil. Cipan segera menoleh. Eh, itu Tanti sambil mengacung-acungkan tas dan buku Cipan.
“Kamu lupa bawa ini, ya?” teriaknya lagi.
Wajah mendung Cipan berubah menjadi cerah. “Loh, Tanti ‘kan harusnya turun di Srireja, kok dia bela-belain bawa barang-barang itu, sih?” pikirnya.
“Wah, makasih banget ya, Tan!” sahut Cipan sambil menghampiri Tanti.
Akhirnya, Cipan dengan setia menemani Tanti menunggu bis yang lewat berikutnya.
Sekarang jam dinding di dinding salah satu rumah di tepi jalan tempat Cipan dan Tanti menunggu bis menunjukkan jam tujuh tepat. Bel sekolah berdering di kejauhan. Tapi Cipan tidak peduli. Malah dia bersyukur bila bis yang berikutnya tidak datang.
Namun ternyata bis berikutnya datang. Tanti naik bis itu dan Cipan tanpa dikomando langsung berlari ke sekolah.
Pintu gerbang sekolah sudah tertutup. Jam bulat di pergelangan tangan kanan Cipan menyorot jam tujuh lebih seperempat. Cipan mencoba memanjat gerbang sekolah.
Namun sayang, dia terlihat oleh satpam dan langsung digelandang kayak maling ayam menuju ruang guru.
Cipan bertemu dengan guru piket.
“Cipan, kenapa kamu terlambat lagi?” tanya guru piket.
“Anu, seperti biasa, pak!!” ujar Cipan sambil cengar-cengir.

Read More..

Rumahku Istanaku

Bila kau datang mendekat
Ku mencoba untuk menjauh
Ku berusaha menghindar
Mobil kuning roda rantai
Belalai sekop menjuntai
Menderu memecah damai
Tembok roboh
Genting jatuh
Tegel merekah
Rata di tanah
Kau datang tanpa tanda
Menghadirkan penderitaan
Menghadirkan kesengsaraan
Anak-anak di ujung gang
Kami bangun istana kami
Dengan cucuran keringat
Dengan derai harapan
Dengan penuh pengorbanan
Kami bangun istana kami
Sedikit demi sedikit
Dengan berhemat
Walau kami melarat
Sekedip mata
Semua rata
Semua hilang
Tinggal angan
Rumahku istanaku…
Walau gubuk tetap istanaku
Ku ‘kan pergi dari gubukku
Mencari istana impian yang baru
Yang tak ada mobil kuning lagi
Kesamben, Selasa 20 April 2007

Read More..

Selasa, 04 September 2007

BAH! was Here

BAH! was Here, adalah tanda yang ditinggalkan di tempat yang pernah aku datangi. Secara harfiah artinya "BAH! pernah disini". BAH sendiri merupakan singkatan dari Bayu Aditya H, diberi tanda seru ("!") supaya seperti kata sanggahan.
Sekian, mohon maaf bagi yang merasa terganggu dengan tanda tersebut. Ini agar yang menemukan tanda tersebut menyadari keberadaan BAH!.

Read More..

Kamis, 23 Agustus 2007

Penyeka Portabel

Pada pertandingan kadang-kadang terjadi tackling keras oleh pemain lawan, sehingga pemain yang terkena tackling kesakitan. Pada saat itu petugas kesehatan tim akan segera masuk ke lapangan dan menyeka bagian yang sakit dengan penyeka (alat penyeka portabel).
Kantung penyeka portabel merupakan salah satu alat P3K yang dibawa oleh pelatih kesebelasan dalam mengantisipasi terjadinya kram atau terkilir. Kantung penyeka portabel bekerja dengan memanfaatkan reaksi endoterm, yaitu reaksi kimia yang disertai dengan pelepasan kalori dari lingkungan ke sistem, dan reaksi ekstern, yaitu reaksi kimia yang disertai dengan pelepasan kalori dari sistem ke lingkungan, secara langsung.
Kantung penyeka dingin berupa kantung plastik dua lapis. Bagian luar yang berisi serbuk amonium nitrat (NH4NO3) dan plastik bagian dalam, yang mudah pecah, berisi air. Apabila akan dipakai maka kantong plastik tersebut ditekan dan airnya akan keluar melarutkan amonium nitrat. Proses pelarutan amonium nitrat merupakan proses endoterm sehingga terjadi penurunan suhu. Penurunan suhu pada kantong yang mengandung 120grm kristal amonium nitrat (Mt=80) dan 500 ml air dapat dihitung sebagai berikut:
NH4NO3 = 120 gram
=120/80 mol
Total kalor diserap
= 1,5 mol x 26 kJ mol-1
= 39 kJ
= 39.000 J

Jika q= m x c x ΔT
3.900 = 500 x 4,2 x ΔT
ΔT = 18,6°C

Jadi, suhu larutan akan turun sebesar 18,6°C. Kantung dingin yang berisi amonium nitrat tidak dapat didaur ulang (sekali pakai) sebab larutan amonium nitrat sukar dikristalkan kembali.
Kantung penyeka panas berisi natrium tiosulfat cair (Na2S2O3). Natrium tiosulfat bertahan dalam kondisi cair di bawah titik bekunya (48°C), fenomena ini disebut super dingin (super-cold). Pada kondisi itu, bila ada sedikit saja kristal Na2S2O3 akan diikuti pengkristalan seluruh Na2S2O3 cair. Kristalisasi ini dapat dilakukan dengan menekan induk Na2S2O3 yang ada di pojok kantung ke dalam cairan Na2S2O3. Proses kristalisasi ini merupakan reaksi endoterm yang dapat menaikkan suhu kantung sampai 48°C. Kantung ini dapat dipakai ulang dengan memanaskan packing pada air hangat hingga natrium tiosulfat akan mencair kembali.
Kantung penyeka panas portabel yang lain berisi serbuk besi dan garam dapur serta gas oksigen. Kantung jenis ini berupa kantong plastik yang kuat agar tidak ada gas oksigen yang bocor serta dapat menahan tekanan gas oksigen.
Reaksi yang terjadi adalah:
4Fe(s) + 3O2(g) → 2Fe2O3(s)
ΔH = -1648 kJ mol-1

Pada campuran tersebut dikocok, oksigen akan keluar dari larutan NaCl dan terjadi reaksi antara besi dengan gas oksigen yang di katalis oleh NaCl dan air. Pengocokan tidak boleh terlalu kuat sebab reaksi yang terjadi menghasilkan kalor yang besar dan dapat menghasilkan panas yang terlalu tinggi karena reaksinya sangat cepat, model kantung ini hanya dapat digunakan sekali pakai.

Read More..

Kamis, 16 Agustus 2007

Merdeka Negeri Kita : Indonesia Raya

Negeri kita akan ulang tahun yang ke-62, setelah perjuangan yang panjang dari para pejuang kemerdekan. Kita harus tetap menjaga negeri kita agar tidak terjajah lagi baik berupa fisik ataupun jiwa kita. Kita harus berani mengatakan : "Indonesia Negeriku", tanpa malu-malu lagi, walaupun ada beberapa anak negeri ini yang tingkah lakunya memalukan. Kita harus bangga akan negeri ini, dimulai dari mencintai produk dalam negeri, produk dalam negeri hasil kerja keras bangsa.
Coba lihat judul di atas, "Indonesia Raya", lagu kebangsaan kita. Apakah kamu hafal? Tentumya sebagai anak negri harus hafal dan menghayati lagu tersebut.
Kemarin pada 4 Agustus 2007 Roy Suryo mengklaim menemukan lagu Indonesia Raya yang lebih lengkap daripada yang selama ini digunakan melalui kerjasama penelitian dengan Tim Air Putih.Pada 6 Agustus 2007, ditambahkan pernyataan bahwa ia meneliti sekaligus tiga versi lagu Indonesia Raya. Lagu Indonesia Raya yang diklaim versi asli ini pertama kali dipublikasikan oleh surat kabar Sin Po. Berikut ini adalah kutipan lirik lagu Indonesia Raya asli versi Roy Suryo, seperti yang di beritakan detikinet :

Indonesia Tanah Airkoe
Tanah Toempah Darahkoe
Disanalah Akoe Berdiri
Djadi Pandoe Iboekoe

Indonesia Kebangsaankoe
Bangsa dan Tanah Airkoe
Marilah Kita Berseroe
Indonesia Bersatoe

Hidoeplah Tanahkoe
Hidoeplah Negrikoe
Bangsakoe Ra'jatkoe Semw'wanja
Bangoenlah Jiwanja
Bangoenlah Badannja
Oentoek Indonesia Raja

Reff:
Indonesia Raya Merdeka Merdeka
Tanahkoe Negrikoe jang Koetjinta
Indonesia Raja Merdeka Merdeka
Hidoeplah Indonesia Raja

Indonesia Tanah jang Moelia
Tanah Kita jang Kaja
Di Sanalah Akoe Berdiri
Oentoek Slama-lamanja
Indonesia Tanah Poesaka
Poesaka Kita Semoeanja
Marilah Kita Mendo'a
Indonesia Bahagia

Soeboerlah Tanahnja
Soeboerlah Djiwanja
Bangsanja Ra'jatnja Sem'wanja
Sadarlah Hatinja
Sadarlah Boedinja
Oentoek Indonesia Raja

Reff:
Indonesia Tanah Jang Soetji
Tanah Kita Jang Sakti
Di Sanalah Akoe Berdiri
'Njaga Iboe Sedjati
Indonesia Tanah Berseri
Tanah Jang Akoe Sajangi
Marilah Kita Berdjandji
Indonesia Abadi

Slamatlah Ra'jatnja
Slamatlah Poetranja
Poelaoenja, Laoetnja, Sem'wanja
Madjoelah Negrinja
Madjoelah Pandoenja
Oentoek Indonesia Raja
Namun kemudian diklarifikasi bahwa temuan tersebut bukanlah lagu Indonesia Raya asli. Lagu sebenarnya direkam oleh Perusahaan Piringan Hitam Populer, Pasarbaru milik Yo Kim Chan yang belum ditemukan hingga sekarang. Pada 6 Agustus 2007, Tim Air Putih juga membantah Roy Suryo sebagai pihak yang pertama meneliti dan menemukan lagu teresebut. Roy Suryo juga tidak diakui sebagai pihak yang bekerjasama dengan tim ini dalam meneliti hal tersebut. Roy Suryo menganggap bahwa penolakan tersebut tidak berasal dari sumber yang bisa dipercaya. Namun pada tanggal 7 Agustus 2007, salah seorang anggota Tim Air Putih mengklarifikasi secara tertulis kepada media bahwa mereka memang bekerjasama dengan Roy Suryo untuk berhubungan dengan pemerintah.
Namun, melihat dari lirik ini, sepertinya aku pernah membacanya di buku seni musik kelas dua SMP-ku dulu, persis seperti ini, tapi dengan ejaan yang disempunakan. Di bukuku, lagu Indonesia Raya hanya sampai Reff pertama yang di beri notasi balok, sedangkan yang seterusnya hanya senagai pelengkap saja.
Dari sini, aku berkesimpulan bahwa lagu tersebut bulanlah lagu asli namun hanya versinya saja yang berbeda.

Read More..

Selasa, 07 Agustus 2007

Luar angkasa

Luar angkasa atau angkasa luar atau antariksa (juga disebut sebagai angkasa), merujuk ke bagian yang relatif kosong dari Jagad Raya, di luar atmosfer dari benda "celestial". Istilah luar angkasa digunakan untuk membedakannya dengan ruang udara dan lokasi "terrestrial".
Karena atmosfer Bumi tidak memiliki batas yang jelas, namun terdiri dari lapisan yang secara bertahap semakin menipis dengan naiknya ketinggian, tidak ada batasan yang jelas antara atmosfer dan angkasa. Ketinggian 100 kilometer atau 62 mil ditetapkan oleh Federation Aeronautique Internationale merupakan definisi yang paling banyak diterima sebagai batasan antara atmosfer dan angkasa.
Di Amerika Serikat, seseorang yang berada di atas ketinggian 80 km ditetapkan sebagai astronot. 120 km (75 mil atau 400.000 kaki) menandai batasan di mana efek atmosfer menjadi jelas sewaktu proses memasuki kembali atmosfir (re-entry). (Lihat juga garis Karman).

Batasan menuju angkasa
  • 4,6 km (15.000 kaki) — FAA menetapkan dibutuhkannya bantuan oksigen untuk pilot pesawat dan penumpangnya.
  • 5,3 km (17.400 kaki) — Setengah atmosfer Bumi berada di bawah ketinggian ini
  • 16 km (52.500 kaki) — Kabin bertekanan atau pakaian bertekanan dibutuhkan
  • 18 km (59.000 kaki) — Batasan atas dari Troposfer
  • 20 km (65.600 kaki) — Air pada suhu ruangan akan mendidih tanpa wadah bertekanan (kepercayaan tradisional yang menyatakan bahwa cairan tubuh akan mulai mendidih pada titik ini adalah salah karena tubuh akan menciptakan tekanan yang cukup untuk mencegah pendidihan nyata)
  • 24 km (78.700 kaki) — Sistem tekanan pesawat biasa tidak lagi berfungsi
  • 32 km (105.000 kaki) — Turbojet tidak lagi berfungsi
  • 45 km (148.000 kaki) — Ramjet tidak lagi berfungsi
  • 50 km (164.000 kaki) — Stratosfer berakhir
  • 80 km (262.000 kaki) — Mesosfer berakhir
  • 100 km (328.000 kaki) — Permukaan aerodinamika tidak lagi berfungsi
Proses masuk-kembali dari orbit dimulai pada 122 km (400.000 ft).

Angkasa tidak sama dengan orbit
Kesalahan pengertian umum tentang batasan ke angkasa adalah orbit terjadi dengan mencapai ketinggian ini. Orbit membutuhkan kecepatan orbit dan secara teoritis dapat terjadi pada ketinggian berapa saja. Gesekan atmosfer mencegah sebuah orbit yang terlalu rendah.
Ketinggian minimal untuk orbit stabil dimulai sekitar 350 km (220 mil) di atas permukaan laut rata-rata, jadi untuk melakukan penerbangan angkasa orbital nyata, sebuah pesawat harus terbang lebih tinggi dan (yang lebih penting) lebih cepat dari yang dibutuhkan untuk penerbangan angkasa sub-orbital.
Mencapai orbit membutuhkan kecepatan tinggi. Sebuah pesawat belum mencapai orbit sampai ia memutari Bumi begitu cepat sehingga gaya sentrifugal ke atas membatalkan gaya gravitasi ke bawah pesawat. Setelah mencapai di luar atmosfer, sebuah pesawat memasuki orbit harus berputar ke samping dan melanjutkan pendorongan roketnya untuk mencapai kecepatan yang dibutuhkan; untuk orbit Bumi rendah, kecepatannya sekitar 7,9 km/s (28.400 km/jam — 18.000 mill/jam). Oleh karena itu, mencapai ketinggian yang dibutuhkan merupakan langkah pertama untuk mencapai orbit.
Energi yang dibutuhkan untuk mencapai kecepatan untuk orbit bumi rendah 32MJ/kg sekitar dua puluh kali energi yang dibutuhkan untuk mencapai ketinggian dasar 10 kJ/km/kg.

Sumber : Luar angkasa

Read More..

Kamis, 19 Juli 2007

Cecoretan episode #9 : Akhir dari Cecoretan ber-"episode"

Cecoretan merupakan tempat Bayu di BlogSpot untuk corat-coret, bisa berupa kata diary, kata-kata celoteh, kata catatan, kata yang menurutmu tidak ada gunanya, atau sekedar iseng.
Mulai sekarang...
Cecoretan tidak akan menggunakan judul "Cecoretan episode #bla-bla : Bla-bla
Sekian terima kasih.
Bila ada pertanyaan kirim ke Cbox Chat Widget di sebelah kiri.

Read More..

Kamis, 12 Juli 2007

What I've Done - Linkin Park


Lirik Syair

In this farewell
There’s no blood
There’s no alibi
‘Cause I’ve drawn regret
From the truth
Of a thousand lies

[Pre-Chorus]
So let mercy come
And wash away
What I’ve done

[Chorus]
I'll face myself
To cross out what I’ve become
Erase myself
And let go of what I’ve done

Put to rest
What you thought of me
Well I cleaned this slate
With the hands
Of uncertainty


So let mercy come
And wash away
What I’ve done

[Chorus]
I’ll face myself
To cross out what I’ve become
Erase myself
And let go of what I’ve done

For what I’ve done
I start again
And whatever pain may come
Today this ends
I’m forgiving what I’ve done

[Chorus]
I’ll face myself
To cross out what I’ve become
Erase myself
And let go of what I’ve done

What I’ve done
Forgiving what I’ve done

Sumber : Linkin Park What I've Done Lyrics

Read More..

Minggu, 01 Juli 2007

Cecoretan episode#8 : Kenaikan Kelas

Kemarin sabtu (30 Juni 2007) adalah waktu penerimaan laporan hasil belajar semester genap kelas sepuluh di sekolahku. Kami menyebutnya penerimaan rapot, walaupun menurutku kata 'rapot' dalam bahasa inggris memiliki arti laporan, sehingga 'perimaan rapot' sama dengan 'penerimaan laporan'.
Sabtu pagi, aneh sekali, hatiku tidak berdebar-debar, takut tidak naik kelas, seperti teman yang kukenal. Mungki karena tidak remidi saat ujian kenaikan kelas dulu. Aku justru bermain game dari pagi sampai siang di penyewaan komputer di selatan sekolah.
Remidi?
Apaan tuh?
Bagi yang belum tahu atau yang tahu tapi lupa-lupa ingat, remidi yaitu mengulang ujian karena nilai yang diperoleh di bawah standar ketuntasan belajar minimal.
Siang hari, setelah selesai, aku langsung pulang. Aku justru berdebar waktu itu. Berdoa komat-kamit agar dapat naik kelas dan di terima di jurusan pilihan. Di rumah, kaget waktu orang rumah bilang tidak naik kelas. Namun, kutak percaya sebab mereka sambil senyam-senyum mesam-mesem. Langsung kucari rapot, ternyata benar yang aku yakini, aku naik kelas dan di terima di jurusan pilihan walaupun dengan nilai pas-pasan.

Catatan:
Posting ini dikirim melalui surat elektronik yang dibuka menggukan web browser Nokia 6030, sehingga mohon maaf atas keterbatasan karakter dan pengaturan huruf yang digunakan (2000 karakter). Penyuntingan yang terakhir ini mempergunakan perambah Mozilla firefox.

Read More..

Selasa, 26 Juni 2007

Cecoretan episode #7 : Makarti XI Sebuah Kenagan di Tegalasri

Makarti merupakan singkatan dari Perkemahan Karya Bhakti. Kemarin dilaksanakan di Lapangan Tegalasri pada hari sabtu (23 Juni 2007) hingga hari senin (25 Juni 2007).
Makarti kemarin, yang menurutku, sudah lancar dan tidak ada hambatan bagi aku dan sanggaku. Oh ya, bagi yang belum mengerti apa itu sangga, itu apakah sejenis makanan atau mainan.
Sangga bukanlah nama makanan atau mainan. Sangga adalah satuan terkecil dari pramuka penegak. Pramuka penegak adalah pramuka yang berada di tingkatan sekolah menengah atas.
Di surat tertulis bahwa kelas sepuluh harus masuk pukul 12.00 WIB hari sabtu dan pulang pukul 15.30 WIB di hari senin. Waktu sabtu pagi aku datang ke sekolah, rencananya sih buat lihat-lihat kawan yang remidi Bahasa Indonesia dan Geografi dan mengambil dataku yang ketinggalan di rental bawah sekolah, ternyata, kata kawanku, berangkat diajukan menjadi pukul 10.00 WIB, sehingga aku tergesa pulang mengambil perlengkapanku yang kutinggal di rumah. Terburu aku di rumah takut terlambat. Sekembali ke sekolah ternyata sampai lewat jam 11 belum berangkat jua. Ternyata tetap berangkat jam 12 lebih seperempat.
Di sana malam amat sangat dingin sekali. Waktu api unggun di hari kedua aku kedingan sampai harus menggigil keras agar lebih hangat.
Kami pulang hari senin jam 5 sore, melar dua setengah jam dari jadwal dan sampai di sekolah jam setengah enam dan sampai di rumah jam enam. Aku menyesal kenapa waktu pulang aku turut ikut truk sekolah sehingga aku harus pergi terlebih dahulu ke sekolah, padahal letak Lapangan Tegalasri lebih dekat dengan rumahku dari pada dengan sekolah. Ke sana butuh waktu sekitar sepuluh menit perjalanan kendaraan dri rumahku.
Sekian pengalamanku waktu Makarti. Cerita ini sebenarnya belum lengkap, akanku perbaharui di lain kesempatan.
Bila ada pertanyaan kirim ke Cbox Chat Widget di sebelah kiri.

Read More..